Terkadang manusia tidak sadar dengan kemampuan yang dimiliki, dan justru mencari kemampuan lain yang terlihat lebih menarik. Namun tahukah Anda bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda?

Dibalik perbedaan kemampuan masing-masing orang, ada kesamaan yang mendasar di hati setiap manusia, yaitu rasa empati. Rasa empati ini umumnya digunakan untuk mencoba memahami perasaan orang lain, baik itu pasangannya, rekannya, maupun orang yang tidak dikenal. Berawal dari empati, akhirnya timbullah keinginan untuk memberitahukan informasi tentang kebenaran atas suatu peristiwa

Rasa ingin membantu mengungkapkan kebenaran atas suatu peristiwa ternyata sering terjadi. Baik dalam hal remeh-temeh seperti gosip, hingga hal yang serius seperti konferensi. Disadari atau tidak, sebenarnya ini menjadi cikal-bakal munculnya jiwa untuk melakukan pembelaan dalam diri seseorang.

Mengapa begitu?

Ketika seseorang berusaha untuk membela orang lain dan membantu mengatakan kenyataan yang sebenarnya, pada titik itulah orang tersebut berusaha untuk menjadi seorang advokat, dan ini terjadi secara alamiah. Tapi apakah hanya itu saja naluri keadvokatan yang tersembunyi? Mungkin itu salah satunya, namun kenali lebih lanjut tentang naluri alamiah di dalam diri Anda tentang Advokat.

Apakah Anda memiliki naluri untuk menjadi seorang advokat? Mari kita cek apakah lima kejadian ini menimpa diri Anda!

Pertama, percaya diri tinggi dan mampu berargumentasi dengan baik.

Jika Anda memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi dan juga mampu berargumentasi dengan baik, itu adalah salah satu pertanda bahwa mungkin saja Anda dilahirkan untuk menjadi seorang advokat.

Mengapa demikian?

Seorang advokat dituntut untuk mampu berbicara di depan umum dengan percaya diri dan dengan artikulasi yang jelas. Selain itu juga harus tahu bagaimana menggunakan suaranya secara efektif, kapan diperlukan intonasi dengan lembut, kapan diperlukan intonasi dengan penekanan. Kemampuan untuk berargumentasi dengan baik sangat dibutuhkan, karena nantinya advokatlah yang akan membujuk orang untuk melakukan suatu tindakan. Maka dari itu, advokat perlu memiliki kepercayaan diri yang tinggi, karena itu adalah satu-satunya cara bagi mereka untuk meyakinkan orang lain. Disamping itu, advokat juga harus memiliki keterampilan mendengarkan yang baik dan memperhatikan ketika orang lain sedang berbicara.

Kedua, rajin membaca dan up to date pada ilmu pengetahuan.

Advokat harus rajin membaca dan up to date pada ilmu pengetahuan agar lebih persuasif dan efektif. Kemampuan seorang advokat tidak hanya dalam kemampuannya mengadvokasi ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam kemampuannya membaca dan memahami literatur ilmiah. Advokat harus tetap up to date pada ilmu pengetahuan dengan membaca tentang hal itu dan melakukan penelitian independen. Hal ini bertujuan agar advokat tidak “ketinggalan zaman” dengan perkembangan-perkembangan ilmu pengetahuan, baik dari sisi ilmu hukum, isu publik, revisi perundang-undangan, atau naskah lainnya yang dapat menunjang karir keadvokatan.

Ketiga, berintegritas dan menjunjung tinggi kebenaran.

Advokat adalah seseorang yang berbicara untuk seseorang, kelompok, atau tujuan. Sehingga seorang advokat dituntut untuk memiliki integritas dan menjunjung tinggi kebenaran. Mereka sering tidak mementingkan diri sendiri dan bekerja untuk kebaikan yang lebih besar.

Untuk menjadi advokat yang efektif, Anda membutuhkan integritas. Ini berarti Anda jujur dan kata-kata Anda sesuai dengan tindakan yang Anda lakukan. Anda harus jujur dalam semua interaksi Anda dengan orang lain, baik secara langsung ataupun secara online. Sehingga seharusnya seorang advokat tidak mengadvokasi suatu tujuan yang tidak mereka yakini.

Mengapa demikian? Sebab seorang advokat sering dilihat sebagai orang yang berjuang untuk sesuatu yang mereka yakini, berdasarkan penyebab, masalah, atau seseorang yang mereka bela.

Keempat, mampu memandang sebuah peristiwa dari berbagai sudut pandang.

Seorang advokat harus mampu melihat suatu peristiwa dari berbagai perspektif. Sebab seorang advokat harus dapat menempatkan diri pada posisi orang lain untuk menemukan solusi atas masalah mereka. Dengan cara ini, advokat bisa mendapatkan lebih banyak informasi tentang apa yang terjadi dan mengapa itu bisa terjadi. Hal ini juga akan membantu mereka untuk memahami perspektif yang berbeda dan kemudian mereka dapat menggunakan pemahaman itu untuk membuat argumen mereka. Biasanya hal ini dilakukan dengan menggunakan empati. Empati adalah kemampuan untuk memahami dan berbagi perasaan orang lain. Empati juga menjadi bagian untuk meningkatkan kapasitas dalam memahami pikiran, keyakinan, dan pengalaman seseorang dari sudut pandang mereka.

Kelima, mampu menjaga rahasia dengan baik.

Advokat harus mampu menjaga rahasia dengan baik agar dapat melindungi kliennya, ini adalah prinsip yang harus dipegang teguh oleh seorang advokat. Kemampuan advokat untuk menyimpan rahasia adalah bagian penting dari pekerjaan. Ini karena advokat perlu mengetahui kapan dan bagaimana cara yang tepat untuk berbagi informasi tentang klien mereka dengan orang lain. Mereka juga perlu mengetahui informasi apa yang tidak boleh mereka bagikan, bahkan jika itu berarti merusak kepercayaan.

Sampai di sini, apakah Anda memiliki salah satu dari 5 ciri tersebut? Jika iya, jangan diabaikan. Sebab membela dan membantu orang lain untuk mendapatkan hak yang seharusnya mereka terima adalah pekerjaan yang mulai. Mulailah langkah awal dengan menyelesaikan studi ilmu hukum di Fakultas Hukum, kemudian dilanjutkan dengan mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat, selanjutnya mengikuti Ujian Profesi Advokat, dan diakhiri dengan pengikuti Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Advokat. Maka lengkaplah sudah tahap yang Anda jalani untuk menjadi seorang advokat yang akan berguna bagi orang banyak.