Ketika Anda setuju dengan salah satu pihak, Anda tidak boleh membela pihak tersebut. Mengapa? Itulah salah satu tugas seorang mediator.

Jika seorang advokat bertugas untuk membela kliennya hingga mati-matian untuk memenangkan perkaranya, berbeda tugasnya dengan seorang mediator. Dalam hal berperkara, mediator justru harus mati-matian berusaha untuk mendamaikan para pihak yang berperkara. Lalu, siapakah itu mediator?

Mediator adalah seseorang yang membantu para pihak yang berperkara, atau dua orang atau lebih, untuk mencapai kesepakatan. Seorang mediator yang baik harus bersikap netral dan tidak berpihak pada salah satu pihak manapun. Disaat para pihak mengatakan bahwa apa yang mereka katakan adalah yang paling benar, disinilah peran penting seorang mediator bekerja.

Tugas seorang mediator diawali dengan adanya pertemuan dengan kedua belah pihak dalam proses mediasi. Proses mediasi ini dapat dilakukan sebelum adanya pengajuan perkara ke pengadilan, atau setelah perkara diajukan ke pengadilan.

Saat berpraktik sebagai seorang mediator, para mediator harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik, kontrol emosi yang mumpuni, dan kemampuan mendengarkan secara empatik dari apa yang dikatakan oleh masing-masing pihak yang berperkara. Setelahnya, seorang mediator harus dapat meringkas poin-poin yang dibicarakan oleh para pihak untuk mencari celah perdamaian kepada para pihak yang berperkara.

Seorang mediator tentu tidak boleh terpancing emosi. Keteguhan hati seorang mediator sangat di uji dalam menangani perkara. Para mediator harus mencoba untuk memahami kedua sudut pandang dari para pihak yang berperkara. Dengan memahami sudut pandang kedua belah pihak, kemudian seorang mediator bertugas untuk membantu para pihak yang berperkara untuk menemukan solusi yang terbaik untuk menyelesaikan perselisihan yang mereka alami.

Ketika seorang mediator tidak bersikap netral, maka selain mencederai kode etik dan peraturan yang berlaku bagi profesi mediator, tentu juga dapat merugikan salah satu pihak yang berperkara. Ketidaknetralan mediator akan membuat proses mediasi menjadi rumit dan menimbulkan ketidakpercayaan dari para pihak yang bersengkat.

Perlu diingat, para praktiknya, seorang mediator bukan mencari dan memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Jadi tidak ada proses salah menyalahkan atau benar membenarkan selama proses wawancara kepada para pihak dilakukan.

Para pihak yang berperkara telah percaya pada Anda, bahwa sikap netral seorang mediator adalah sama sekali tidak memihak. Ini berarti mediator sama sekali tidak mengutarakan, mendukung, atau memutuskan untuk berpihak pada salah satu pihak manapun. Sikap ini harus Anda jaga sebagai seorang mediator, agar tidak mencederai kode etik yang sudah terbangun tentang arti seorang mediator.