Mayoritas dari kita pasti sudah tidak asing dengan istilah mediasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti dari mediasi sendiri adalah : “Proses pengikutsertaan pihak ketiga dalam penyelesaian suatu perselisihan sebagai penasihat”. Masalah yang ditangani sendiri tidak selalu berkaitan dengan persoalan hukum, selama masalah tersebut memang dianggap bisa dan perlu diselesaikan dengan upaya mediasi.

Namun jika dikaitkan dengan dunia hukum, mediasi adalah salah satu alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan/non litigasi yang dapat digunakan oleh masyarakat sebagai solusi dalam mengakhiri persoalan hukum yang mereka sedang hadapi. Pengaturan mengenai mediasi sebagai salah satu upaya menyelesaikan masalah hukum salah satunya dapat kita lihat di dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi Di Pengadilan. Ketika masyarakat hendak melakukan mediasi, tentu ada pihak netral yang menjadi penengah agar hasil dari proses mediasi dapat memenuhi harapan dari pihak yang sedang bersengketa. Pihak tersebut dikenal dengan sebutan mediator.

Peran seorang mediator dalam proses mendamaikan para pihak yang sedang bersengketa tidaklah mudah. Selain harus dapat memahami inti dari permasalahan yang sedang terjadi, dirinya harus memiliki kemampuan negosiasi yang baik kepada para pihak agar tercapai kesepakatan sebagai jalan keluar permasalahan. Untuk menjadi mediator sendiri tidak bisa sembarangan, karena kamu harus mengikuti Pendidikan Mediator yang terakreditasi di Mahkamah Agung Republik Indonesia agar bisa mendapatkan sertifikasi secara profesional. Namun sebenarnya, bagaimana peluang karir yang bisa dijalani ketika kita sudah memiliki sertifikasi mediator? Di bawah ini adalah beberapa kemungkinan karir/pekerjaan yang bisa kamu lakukan setelah lulus sertifikasi, antara lain :

Menjadi mediator non-hakim di pengadilan

Dengan sertifikasi yang telah kamu dapatkan melalui Pendidikan Mediator, maka kamu dapat mendaftarkan diri sebagai salah satu mediator non-hakim di pengadilan, baik pengadilan negeri maupun pengadilan agama. Kasus-kasus yang ditangani pun bisa beragam seperti sengketa atas jual beli barang, perorangan dan keluarga, administrasi, dll. Dengan bergabungnya kamu menjadi mediator independen di pengadilan, kamu berkesempatan juga memperkenalkan bahwa tidak semua kasus hukum harus diselesaikan di depan “meja hijau”, namun juga bisa melalui proses mediasi.

Membuka praktik mediasi mandiri yang profesional

Selain menjadi mediator independen di pengadilan negeri atau agama, kamu yang telah memiliki sertifikasi dapat membuka jasa mediasi mandiri secara profesional. Dengan membuka praktik mediasi mandiri, maka kamu memiliki peluang besar untuk mendapatkan klien dari lingkungan sekitar kamu. Karena saat ini masih jarang keberadaan sebuah kantor yang khusus menangani perkara terkait mediasi di tengah masyarakat.

Menjadi mediator di perusahaan swasta/instansi pemerintahan

Keberadaan seorang mediator tidak hanya terbatas di pengadilan, namun juga dapat melakukan jasa mediasi di dalam sebuah perusahaan swasta atau instansi milik pemerintahan. Dengan jumlah karyawan yang bisa mencapai ribuan orang, berpotensi untuk memunculkan masalah terkait dengan hubungan industrial antara karyawan dengan perusahaan. Di sinilah peran seorang mediator untuk menengahi dan melakukan negosiasi untuk menghasilkan kesepakatan. Selain itu keberadaan mediator di sebuah perusahaan/instansi dapat juga menangani perkara terkait sengketa bisnis.

Setidaknya tiga peluang karir tersebut dapat kamu lakukan jika sudah mengikuti Pendidikan Mediator dan mendapatkan sertifikasi sebagai seorang mediator profesional.

Jika kamu memiliki ketertarikan untuk mempelajari terkait dengan penyelesaian sengketa melalui mediasi, atau punya keinginan untuk berpraktik sebagai seorang mediator, maka kamu dapat mendaftarkan diri di dalam program Pendidikan Mediator Bersertifikat (PMB) yang diadakan oleh ICJR Learning Hub. Dan pastinya PMB ini sudah terakreditasi oleh Mahkamah Agung, sehingga tidak perlu khawatir tentang legalitas pelaksanaannya!